Pare, atau pareira brava (Momordica charantia), adalah salah satu sayuran yang memiliki rasa yang pahit, namun memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Mempunyai banyak nama di beberapa daerah di antaranya paria, Pare (Jawa) Poya, Pudu (Sulawesi), Papariane (Maluku), Paya (Nusa Tenggara). Dalam artikel kali ini, kita akan membahas tentang ciri ciri, jenis, manfaat, efek samping, dan syarat tumbuh pare. Berikut pembahasannya.

Ciri Ciri Tanaman Pare
Tanaman pare memiliki ciri ciri atau morfologi sebagai berikut yaitu.
Akar
Memiliki dua tipe utama, yaitu akar tunggal dan akar berserabut yang sangat lembut. Oleh karena itu, tanaman pare lebih cocok untuk jadi budidaya pada kondisi lahan atau tanah yang keras dan berpasir. Akar pare berwarna putih.
Batang
Batang tanaman pare berusuk lima dan memiliki panjang sekitar 2-5 cm. Daunnya tunggal dan memiliki tangkai dengan panjang berkisar antara 1,5 hingga 5,3 cm. Daun pare berbentuk bulat dengan panjang 10 cm dan berwarna hijau tua. Pada batang yang masih muda, rambut-rambut cukup rapat dapat ditemukan.
Daun
Bentuk bulat telur, berbulu, dan berlikuk. Susunan tulang daunnya menjari, dan panjang tangkai daunnya mencapai 7-12 cm. Daunnya memiliki warna hijau tua di bagian atas dan hijau muda atau kekuningan di bagian bawah. Letak daun pare berseling dengan panjang tangkai antara 1,5 hingga 5,3 cm. Daun tunggal ini memiliki bentuk membulat dengan pangkal yang menyerupai jantung dan garis tengah sekitar 4-7 cm.
BACA JUGA : Pengenalan Tanaman Terong dan Jenis-Jenis Terung
Bunga
Tumbuh dari ketiak daun dan berwarna kuning yang mencolok. Terdiri dari dua jenis, yaitu bunga jantan dan bunga betina yang memiliki duri tempel, halus, dan berambut. Kelopak bunga berbentuk lonceng dan berusuk banyak. Panjang tangkai bunga jantan mencapai 2-5,5 cm, sedangkan tangkai bunga betina bisa mencapai 1-10 cm. Pembedaan bunga pare menjadi bunga jantan yang memiliki benang sari berjumlah tiga dengan kepala sari berwarna orange, serta bunga betina yang memiliki sisik, bakal buah berparuh panjang, berduri halus, dan berambut panjang. Putik pada bunga betina berjumlah tiga, dua di antaranya berlekuk dan satu utuh.
Buah
Berasal dari bunga betina yang telah mengalami proses penyerbukan. Bentuk bulat memanjang dengan permukaan berbintil-bintil dan memiliki rasa pahit. Bagian buah yang telah masak berwarna jingga. Daging buahnya tebal dan di dalamnya terdapat banyak biji. Buah ini berbentuk bulat memanjang, memiliki bintil-bintil yang tidak beraturan, panjangnya berkisar antara 8 hingga 30 cm, berwarna hijau, dan berubah menjadi jingga saat matang.
Jenis Jenis Pare
Terdapat 2 jenis pare yang populer di Indonesia yaitu :
Pare Gajih

Pare gajih adalah salah satu jenis pare yang daging buahnya tebal dan berair. Memiliki bentuk bulat lonjong dengan panjang berkisar 30 hingga 50 cm. Rasanya tidak terlalu pahit daripada pare pada umumnya. Selain itu pare gajih memiliki permukaan yang tidak rata dan memiliki bintil bintil atau benjolan.
Pare Kodok

Pare kodok adalah jenis pare yang rasanya paling pahit di antara jenis pare lainnya. Pare kodok memiliki warna hijau tua atau hijau gelap dengan memiliki bentuk bulat lonjong dan ukurannya lebih pendek daripada pare gaji. Namanya pare kodok karena warnanya dan bintil bintilnya yang mirip dengan kodok.
BACA JUGA : Kaya Akan Manfaat, Inilah 7 Manfaat Terong Bagi Kesehatan
Syarat Tumbuh Tanaman Pare
Syarat penting untuk pertumbuhan tanaman pare yang baik meliputi beberapa faktor utama. Pertama, tanah harus gembur, kaya akan humus, dan memiliki pH antara 5-6. Selain itu, tanaman pare tidak memerlukan banyak paparan sinar matahari, sehingga dapat tumbuh dengan baik di lokasi yang teduh, dan sebaiknya ditanam di pekarangan rumah.
Waktu penanaman yang optimal adalah pada awal musim hujan atau awal musim kemarau. Hal ini menciptakan kondisi yang ideal bagi tanaman pare untuk tumbuh subur. Selain itu, daya adaptasi tanaman pare sangat tinggi, memungkinkannya beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim yang berbeda, seperti perbedaan suhu dan curah hujan yang tinggi. Oleh karena itu, tanaman pare dapat tumbuh di daerah dataran tinggi dan mampu berproduksi sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
Manfaat Buah Pare

Meskipun rasanya cenderung pahit dan tidak banyak orang yang suka, buah pare memiliki beberapa manfaat yang baik untuk tubuh.
Mencegah Sembelit
Buah pare mengandung serat yang tinggi, sehingga membantu dalam mencegah sembelit. Serat dalam buah pare meningkatkan volume dan kelembaban tinja, memudahkan proses pencernaan, dan mencegah masalah sembelit.
Menjaga Kesehatan Pencernaan
Kandungan serat dalam buah pare juga membantu menjaga kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Serat membantu memperlancar pergerakan makanan melalui saluran pencernaan dan mencegah gangguan pencernaan seperti iritasi usus.
Meredakan Asam Lambung
Buah pare dapat membantu meredakan masalah asam lambung berlebihan. Beberapa senyawa dalam pare memiliki efek menenangkan pada lambung yang teriritasi.
Bantu Kendalikan Berat Badan
Kandungan serat dan rendah kalori dalam buah pare menjadikannya sebagai makanan yang baik dalam program penurunan berat badan. Serat membantu memberikan perasaan kenyang lebih lama, mengurangi keinginan makan berlebihan.
Mengatur Gula Darah
Pare telah terbukti membantu dalam mengatur kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Beberapa senyawa dalam pare memiliki efek positif pada pengendalian gula darah.
Menurunkan Kadar Kolesterol
Konsumsi pare secara teratur dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Ini berkat kandungan senyawa-senyawa tertentu yang dapat membantu mengurangi kolesterol jahat (LDL).
Menjaga Kesehatan Jantung
Manfaat pare juga termasuk dalam menjaga kesehatan jantung. Dengan mengontrol kadar kolesterol dan gula darah, pare dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.
Efek Samping Buah Pare
Selain memiliki berbagai macam manfaat, buah pare juga memiliki efek samping yang jadi perhatian. Terutama jika konsumsi oleh ibu yang sedang hamil. Alasannya karena senyawa kimia dalam pare dapat memicu kontraksi rahim sehingga meningkatkan risiko keguguran. Selain pada ibu hamil, konsumsi pare saat menyusui juga kurang .
