Jerami padi, sebagai salah satu hasil samping dari proses panen padi, seringkali dianggap sebagai limbah yang kurang bernilai. Namun, di balik persepsi tersebut, jerami padi sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan dalam berbagai cara yang bermanfaat. Memanfaatkan limbah jerami padi secara efektif tidak hanya dapat membantu mengurangi limbah pertanian, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Tentang limbah jerami padi
Dengan memahami potensi dan manfaatnya, kita dapat mendorong praktik pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan dan memberikan dampak positif pada lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Jerami sisa hasil panen padi kalau kita amati begitu banyaknya kurang lebih 25-30 ton basah per hektare setiap kali panennya.
Namun sering tak bermanfaat bahkan dibakar begitu saja. Hal tersebut akibat ketidaktahuan para petani tentang cara memanfaatkan agar mendapatkan nilai tambah dari jerami tersebut. Hanya sebagian kecil saja kurang dari 10 persen yang menjadi pakan untuk pakan ternak dan kembali ke sawah sebagai pupuk untuk tanaman.
Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Indragiri Hulu melaporkan bahwa luas panen padi sawah di Kecamatan Kuala Cenaku, seluas 1.464 hektar dengan rata-rata produksi 4,1 ton per hektar. Sementara itu menurut Kim dan Dale (2004) potensi jerami kurang lebih 1,4 kali dari hasil panen. Itu artinya terdapat potensi jerami sebesar 8.403,36 ton setiap tahun.Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Widya Fatriasari dalam keterangan resminya mengatakan bahwa sejauh ini pemanfaatkan jerami belum optimal, walaupun 60 persen dari tanaman padi merupakan jerami.
Pemanfaatan yang belum optimal ini juga berkaitan dengan anggapan bahwa jerami hanyalah salah satu jenis limbah pertanian. Alhasil, masih sangat banyak masyarakat yang hanya membakar begitu saja hasil jerami dari sawah yang mereka ladangi. Pada tahun 2014, sebanyak 35,46 juta ton jerami padi dibakar dan sebagian kecil menjadi pakan ternak, produk kerajinan dan kompos jerami. Padahal, kata Widya, pembakaran jerami itu dapat menyebabkan polusi udara, karena menghasilkan gas karbondioksida.
Manfaat Jerami Padi
Berikut ini adalah beberapa cara memanfaatkan jerami padi sawah;
1. Sebagai mulsa tanaman
Sebagai mulsa tanaman jerami sangat baik sekali sebab mampu menekan gulma yang ada di lahan bila kita bertanam dimusim kemarau seperti tanam semangka, mentimun, kacang-kacangan, cabai dan sebagainya. Bisa juga sebagai penghalang terpaan sinar matahari secara langsung. Penggunaan jerami sebagai mulsa dapat juga mempertahankan air dalam tanah dan dapat menekan beberapa gulma yang berkembang. Jerami padi tidak saja bermanfaat untuk tanaman palawija namun juga bagi tanaman perkebunan seperti cengkeh, vanili, kopi dan tembakau.
2. Jerami padi sebagai kompos
Pembuatan kompos jerami padi sangat sederhana, dimana jerami ditumpuk setebal kurang lebih 50 Cm, dan ditaburi sedikit pupuk urea, untuk mempercepat proses pelapukan serta dibiarkan kurang lebih 15 hari kemudian dibolak balik. Inipun sangat baik untuk memperbaiki kesuburan tanah, struktur tanah menjadi gembur dan mudah menyerap air. Bila ditabur kelahan secara merata tanaman akan menjadi lebih baik karena jerami juga mengandung unsur NPK yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan produktivitasnya.Untuk mempercepat proses penghancuran, bisa juga dicacah terlebih dahulu.
BACA JUGA : Mesin Proses Produksi Pengolahan Kompos – Daftar Harga Mesin Kompos / Pupuk Organik
3.Jerami padi sebagai pakan ternak
Jerami segar yang melimpah setelah bulir padinya dirontokkan, biasanya ditumpuk di tengah petakan sawah atau di pinggir pematang sawah, dan dibiarkan membusuk dan mengering. Sebenarnya ketersediaan jerami padi ini cukup potensial bila diawetkan melalui pengeringan sinar matahari, lalu ditumpuk di tempat yang diberi naungan agar tidak kehujanan untuk dimanfaatkan sebagai cadangan pakan ternak di saat musim kemarau (Agus et al., 2000). Pemanfaatan jerami padi ini pada umumnya masih terbatas untuk pakan ternak ruminansia besar yaitu kerbau dan sapi potong kereman atau sapi penggemukan, sedangkan pada ruminansia kecil masih terbatas pada taraf mencoba-coba dan masih dilakukan penelitian lebih lanjut.
Penggunaan jerami padi untuk pakan ternak tidak dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak tunggal. Karena kandungan nutrientnya dapat dikatakan jelek terlebih lagi kandungan serat kasar yang cukup tinggi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi untuk meningkatkan nilai gizi telah banyak digunakan. Namun untuk pemanfaatan pakan di pedesaan, tampaknya suplementasi jerami padi dengan sisa hasil industri pertanian ataupun tanaman leguminosa merupakan pilihan yang mudah diterapkan. Kualitas jerami padi dapat ditingkatkan baik secara kimia maupun biologi.
Peningkatan jerami padi melalui biologi adalah melalui fermentasi. Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang melibatkan mikroorganisme dengan tujuan menghasilkan suatu produk yang mempunyai kandungan nutrisi, tekstur yang lebih baik memperpanjang masa penyimpanan, mengendalikan pertumbuhan mikrobia, mempertahankan gizi yang dikehendaki, menciptakan kondisi kurang memadai untuk mikrobia kontaminan.
Fermentasi jerami padi untuk pakan ternak
Cara baru yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (contohnya: starbio, starbioplus, EM-4 dan lain-lain).
1. Bahan.
- Jerami : 1 ton
- Urea : 6 kg
- Starbio atau bahan sejenis : 6 kg
- Air : Secukupnya
2. Tempat
- Terdapat atapnya
- Terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung.
3. Cara Pembuatan
- Jerami kering panen layukan selama ± 1 hari untuk mendapatkan kadar air mendekati 60%, dengan tanda-tanda jerami kita remas, apabila air tidak menetes tetapi tangan kita basah berarti kadar air mendekati 60%.
- Jerami yang sudah layukan tersebut pindahkan ke tempat pembuatan dengan cara ditumpuk setebal 20-30 cm (boleh diinjak-injak) kemudian ditaburkan urea, bahan pemacu mikroorganisme (starbio atau bahan sejenis) dan air secukupnya kemudian ditumpuk lagi jerami seperti cara di atas sehingga mencapai ketinggian ± 1,5 m.
- Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari (tidak perlu dibolak-balik).
- Setelah 21 hari tumpukan jerami dibongkar lalu diangin-anginkan atau dikeringkan.
- Jerami siap diberikan pada ternak atau kita stok digudang.

4. Jerami padi sebagai media tanam
Untuk tanaman ubi jalar agar dapat berumbi maksimal dan ukuran umbinya, mulus dan besar-besar maka harus menggunakan jerami sebagai media tanamnya. Adapun caranya adalah dengan membuat bedengan jerami selebar 60-120 Cm dengan panjang bedengan sesuaikan dengan kondisi lahan yang ada.
Kemudian bedengan tersebut urug dengan tanah setebal 5 Cm dari sela-sela bedengan sehingga menutupi seluruh bedengan yang ada. Kemudian tanami bibit ubi jalar. Tanam ubi jalar dengan sistim bedengan jerami dapat membuat umbi dapat berkembang lebih maksimal. Selain itu perawatan lebih mudah, gulma menjadi sedikit dan waktu panen tidak perlu menggunakan cangkul cukup dengan tangan saja. Dengan penggunaan media jerami padi umbi dapat berkembang lebih maksimal, kwalitas dan warna umbi jauh lebih baik dari media tanah.
5.Jerami padi sebagai atap kandang
Kandang sapi, kerbau yang ada di tengah sawah dapat menggunakan jerami sebagai atap yang sangat murah asalkan mendapatkan penanganan yang baik, dapat bertahan 2 – 3 tahun.
- Sekam Padi: Pengertian, Kandungan, dan Daftar Manfaat
- Budidaya Tanaman Padi Sawah Secara Umum
- Varietas / Jenis Padi Unggulan di Indonesia
- Mesin Penggilingan Padi : Pengertian Dan Penjelasan Komponen
6. Jerami padi sebagai media tanam jamur merang.
Di jawa, penjualan jamur merang hampir di setiap pasar. Jerami padi sangatlah bermanfaat asal kita kreatif dan dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk budidaya jamur merang.
Demikian beberapa manfaat dari limbah jerami padi dalam kehidupan kita, asalkan kita mau meluangkan waktu untuk mengelolanya dan dapat menghasilkan rupiah untuk meningkatkan kesejahteraan.
