Tanaman sorgum adalah salah satu tanaman biji-bijian penting yang jadi budidaya di seluruh dun. Sorgum memiliki beragam manfaat, mulai dari sebagai sumber pangan, pakan ternak, hingga bahan baku untuk industri. Kandungannya yang kaya akan serat, protein, dan antioksidan membuatnya semakin diminati. Selain itu, sorgum juga memiliki kemampuan untuk bertahan pada kondisi lingkungan yang ekstrem, sehingga menjadi pilihan yang menarik dalam menghadapi perubahan iklim global. Dalam artikel kali ini, akan membahas tentang sejarah, klasifikasi, morfologi dan cara budidaya tanaman sorgum.

Sejarah
Sorgum berasal dari Afrika, beberapa varietas asalnya antara lain White Durra, Brown Durra, White Kafir, Red Kafir, dan Milo. Tanaman sorgum masuk ke Indonesia sekitar tahun 1925 dan sampai saat ini tanaman sorgum belum bisa dikembangkan secara meluas di Indonesia (Mudjisihono dan Suprapto, 1987).Menurut Bouman (1985), sorgum telah dibudidayakan di Cina selama lebih dari 5000 tahun dan sekarang roti dengan bahan sorgum merupakan makanan paling penting di sebagian besar daerah kering di Afrika dan Asia.
Klasifikasi
- Kingdom: Plantae
- Order: Poales
- Family: Poaceae
- Subfamily: Panicoideae
- Supertribe: Andropogonodae
- Tribe: Andropogoneae
- Subtribe: Saccharinae
- Genus: Sorghum
Morfologi

Morfologi tanaman sorgum mencakup akar, batang, daun, tunas, bunga, dan biji.
Akar
Tanaman sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu, tidak membentuk akar tunggang, perakaran hanya terdiri atas akar lateral. Sistem perakaran sorgum terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akar skunder dan akar tunjang yang terdiri atas akar koronal (akar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar yang tumbuh di permukaan tanah).
Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder dua kali lebih banyak dari jagung. Ruang tempat tumbuh akar lateral mencapai kedalaman 1,3-1,8 m, dengan panjang mencapai 10,8 m. Sebagai tanaman yang termasuk kelas monokotiledone, sorgum mempunyai system perakaran serabut.
BACA JUGA : Sorgum : Kandungan, Manfaat, dan Cara Mengolah
Batang
Batang tanaman sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internodes) dan buku (nodes), tidak memiliki kambium. Pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel parenchym). Tipe batang bervariasi dari solid dan kering hingga sukulen dan manis. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya, sehingga berpotensi dijadikan sebagai bahan baku gula sebagai mana halnya tebu.
Bentuk batang tanaman sorgum silinder dengan diameter pada bagian pangkal berkisar antara 0,5-5,0 cm.Tinggi batang bervariasi, berkisar antara 0,5-4,0 m, bergantung pada varietas. Ruas batang sorgum pada bagian tengah tanaman umumnya panjang dan seragam disbanding ruas pada bagian bawah dan atas tanaman. Ruas paling panjang terdapat pada ruas terakhir (ujung tanaman), yang berupa tangkai malai.
Permukaan ruas batang sorgum mirip dengan tanaman tebu, yaitu diselimuti oleh lapisan lilin yang tebal, kecuali pada ujung batang. Lapisan lilin paling banyak pada bagian atas dari pelepah daun, yang berfungsi mengurangi transpirasi sehingga sorgum toleran terhadap kekeringan.Buku pada batang sorgum rata dengan ruasnya, pada bagian ini tumbuh akar tunjang dan tunas. Bagian dalam batang sorgum seperti spon setelah tua. Pada kondisi kekeringan, bagian dalam batang sorgum bisa pecah.
Tinggi tanaman sorgum bergantung pada jumlah dan ukuran ruas batang. Sorgum memiliki tinggi rata-rata 2,6-4 m. Pohon dan daun sorgum mirip dengan jagung.Tinggi batang sorgum manis yang dikembangkan di China dapat mencapai 5 m, dan struktur tanaman yang tinggi ideal dikembangkan untuk pakan ternak dan penghasil gula. Tinggi tanaman sorgum berhubungan erat dengan umur dan jumlah daun, pada tanaman berumur genjah tinggi dan jumlah daun lebih sedikit daripada tanaman berumur dalam
Tunas
Pada beberapa varietas sorgum, batangnya dapat menghasilkan tunas baru membentuk percabangan atau anakan dan dapat tumbuh menjadi individu baru selain batang utama. Ruas batang sorgum bersifat gemmiferous, setiap ruas terdapat satu mata tunas yang bisa tumbuh sebagai anakan atau cabang. Tunas yang tumbuh pada ruas yang terdapat di permukaan tanah akan tumbuh sebagai anakan, sedangkan tunas yang tumbuh pada batang bagian atas menjadi cabang.
Pertumbuhan tunas atau anakan bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuh tanaman sorgum. Pada suhu kurang dari 180C memicu munculnya anakan pada fase pertumbuhan daun ke-4 sampai ke-6. Tanaman sorgum tahunan mampu menghasilkan anakan 2-3 kali lebih banyak dari sorgum semusim.
Kemampuan menghasilkan anakan dan tunas lebih banyak menjadikan tanaman sorgum bias dipanen untuk kemudian diratun. Cabang pada tanaman sorgum umumnya tumbuh bila batang utama rusak. Jumlah cabang dan anakan bergantung pada varietas, jarak tanam,dan kondisi lingkungan.
Daun
Daun merupakan organ penting bagi tanaman, karena fotosintat sebagai bahan pembentuk biomasa tanaman dihasilkan dari proses fotosintesis yang terjadi di daun. Sorgum mempunyai daun berbentuk pita, dengan struktur terdiri atas helai daun dan tangkai daun. Posisi daun terdistribusi secara berlawanan sepanjang batang dengan pangkal daun menempel pada ruas batang.
Panjang daun sorgum rata-rata 1 m dengan penyimpangan10-15 cm dan lebar 5-13 cm.Jumlah daun bervariasi antara 7-40 helai, bergantung pada varietas. Daun melekat pada buku-buku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri atas pelepah dan helaian daun. Pada pertemuan antara pelepah dan helaian daun terdapat ligula (ligule) dan kerah daun (dewlaps).
Helaian daun muda kaku dan tegak, kemudian menjadi cenderung melengkung pada saat tanaman dewasa. Helaian daun berbentuk lanselot, lurus mendatar, berwarna hijau muda hingga hijau tua dengan permukaan mengkilap oleh lapisan lilin. Stomata berada pada permuakaan atas dan bawah daun. Tulang daun lurus memanjang dengan warna bervariasi dari hijau muda, kuning hingga putih, bergantung pada varietas.
Bunga
Rangkaian bunga sorgum berada pada malai di bagianujung tanaman. Sorgum merupakan tanaman hari pendek, pembungaan dipicu oleh periode penyinaran pendek dan suhu tinggi. Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle/malai (susunan bunga ditangkai). Bunga sorgum secara utuh terdiri atas tangkai malai (peduncle), malai (panicle),rangkaian bunga (raceme), dan bunga (spikelet).
Biji
Bagian dari tanaman memiliki ciri-ciri fisik berbentuk bulat (flattenedspherical) dengan berat 25-55 mg. Biji sorgum berbentuk butiran dengan ukuran 4,0 x 2,5 x 3,5 mm. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu biji berukuran kecil (8-10 mg), sedang (12-24mg), dan besar (25-35 mg). Biji sorgum tertutup sekam dengan warna coklat muda, krem atau putih, bergantung pada varietas. Biji sorgum terdiri atas tiga bagian utama, yaitu lapisan luar (coat), embrio (germ), dan endosperm.
Cara Budidaya Tanaman Sorgum

Berikut adalah tatacara budidaya tanaman sorgum
Persiapan benih
Kebutuhan benih sorgum untuk satu hektar lahan berkisar antara 10 sampai 15 kg, bergantung pada varietas yang akan ditanam, ukuran benih, jarak tanam, dan sistem tanam. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, vigor kecambah benih yang digunakan daya tumbuhnya 90 persen. Beberapa varietas memiliki masa dormansi benih satu bulan pertama setelah panen. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, penanaman sorgum dapat dilakukan dengan menggunakan bibit yang sudah disemaikan.
BACA JUGA : Tanaman Beluntas: Klasifikasi, Ciri Ciri, Manfaat, Habitat, dan Cara Menanam
Penyemaian benih
Proses penyemaian benih 15 sampai 20 hari sebelum tanam. Cara pembuatan persemaian bibit sorgum hampir sama dengan persemaian padi. Bedanya, persemaian sorgum tidak perlu penggenangan air.
Waktu tanam
Penanaman sorgum dapat sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun musim kemarau asal tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Di lahan kering, penanaman sorgum bisa pada awal atau akhir musim hujan secara monokultur setelah panen palawija. Jika tanam pada musim kemarau, setelah panen padi kedua atau setelah palawija di lahan sawah. Pertanaman musim kemarau umumnya memberi hasil lebih rendah daripada musim hujan. Hal ini antara lain karena hama burung, selain proses pengisian biji kurang sempurna karena ketersediaan air terbatas.
Persiapan lahan
Sebelum menanam, sebaiknya bersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya ataupun gulma. Pengolahan tanah untuk menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi tanah dan mengendalikan gulma. Pada lahan yang tingkat ketersediaan airnya cukup atau beririgasi, pengolahan tanah dapat secara optimum, yaitu pembajakan tanah dua kali dan garu satu kali.
Penanaman
Pada area persiapan, buat lubang tanam dengan jarak tanam sesuai dengan varietas tanam, yakni sekitar 65 x 20 cm, ketersediaan air, dan tingkat kesuburan tanah. Pada lahan yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah sebaiknya menggunakan jarak tanam lebih lebar atau kurangi populasi tanam dari populasi baku (sekitar 125.000 tanaman/hektare).
Penanaman dengan cara tugal. Pembuatan lubang tanam menggunakan alat tugal mengikuti arah yang telah ditentukan sesuai dengan jarak tanam yang diinginkan.Kedalaman lubang tanam tidak lebih dari 5 cm. Setiap lubang tanam diisi 3-4 benih, kemudian ditutup dengan tanah ringan atau pupuk organik. Pada umur dua sampai tiga minggu setelah tanam dapat dilakukan penjarangan tanaman dengan meningggalkan dua tanaman atau rumpun. Penanaman sorgum segera setelah panen padi di lahan sawah berpengaruh terhadap hasil. Hal ini tampaknya berkaitan dengan ketersediaan air.
Pemupukan
Tanaman sorgum tumbuh baik pada tanah dengan pH 6-7,5. Pada tanah dengan pH 7,5 namun gejala defisiensi jarang terjadi pada tanaman sorgum. Pada tanah yang kekurangan hara mikro, hasil sorgum rendah. Unsur hara makro adalah nitrogen, fosfor, dan kalium, sedangkan hara mikro adalah besi, seng, magnesium, boron, tembaga, molibdenum, khlor, dan timah.
Nitrogen merupakan salah satu hara pembatas pertumbuhan tanaman yang ketersediaannya terbatas hampir di semua lahan pertanian di Indonesia. Hasil penelitian hampir 50 persen nitrogen untuk pembentukan biji, 67 persen untuk fosfor, dan 17 persen untuk kalium. Tanaman sorgum tanggap terhadap pupuk nitrogen.
Takaran pupuk nitrogen bergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas tanam.Varietas unggul lebih tanggap terhadap pupuk nitrogen daripada varietas lokal. Pada lahan kering, penggunaan pupuk N tidak lebih dari 100 kg per hektar, sedangkan pada lahan cukup air dapat mencapai 135 kg per hektar.
Pemberian pupuk nitrogen satu kali pada umur 10 hari setelah tanam atau dua kali, sepertiga takaran pada saat tanam dan dua pertiga takaran 3-4 minggu setelah tanam atau bersamaan dengan pembumbunan. Pemberian pupuk dengan cara di samping tanaman dengan cara tugal kemudiantutup untuk mengatasi kehilangan pupuk nitogen. Sementara itu, pupuk fosfor dapat meningkatkan hasil sorgum.
Pemeliharaan tanaman
Selama pemeliharaan tanaman kegiatan yang perlu perhatian adalah sebagai berikut.
Pertama, pemberian air. Hal ini jika tanaman kekurangan air. Sebaliknya, jika kelebihan air maka justru harus segera dibuang melalui saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang toleran kekeringan, namun pada periode tertentu memerlukan air dalam jumlah yang cukup, yaitu pada saat tanaman berdaun empat (pertumbuhan awal) dan periode pengisian biji sampai biji mulai mengeras.
Kedua, penyiangan gulma. Kompetisi tanaman sorgum dengan gulma dapat menurunkan hasil dan kualitas biji, terutama pada awal musim hujan. Bahkan keberadaan gulma dapat menurunkan hasil sorgum secara nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil sorgum turun 10-20 persen.
BACA JUGA : Sorgum : Kandungan, Manfaat, dan Cara Mengolah
Ketiga, pembumbunan. Langkah yang bersamaan dengan pemupukan kedua atau tiga sampai empat minggu setelah tanam atau sebelumnya. Pembumbunan dengan cara menggemburkan tanah di sekitar batang tanaman, kemudian menimbunkan tanah pada pangkal batang untuk merangsang pertumbuhan akar dan memperkokoh tanaman agar tidak mudah rebah.
Keempat, pengendalian hama dan penyakit. Langkah ini jika tanaman menunjukkan gejala-gejala serangan. Cara dan waktu pengendalian bergantung pada jenis hama dan penyakit yang menyerang.
Panen
Tanaman sorgum sudah dapat panen pada umur tiga sampai empat bulan setelah tanam, bergantung pada varietas penenaman. Saat panen dapat berdasarkan umur tanaman setelah biji terbentuk atau melihat ciri-ciri visual biji atau setelah lewat masak fisiologis. Tahap panen juga dapat setelah daun berwarna kuning dan mengering, biji bernas dan keras dengan kadar tepung maksimal. Panen sebaiknya pada keadaan cuaca cerah. Cara panen yang baik adalah memotong tangkai malai sepanjang 15-20 cm dari pangkal malai. Selanjutnya jemur malai di bawah sinar matahari dan lalu proses perontokan.
Sumber:
- https://digilib.unila.ac.id/4710/14/BAB%20II.pdf
- https://en.wikipedia.org/wiki/Sorghum
- https://dinpertanpangan.demakkab.go.id/?p=2321
- https://agri.kompas.com/read/2022/08/18/184726684/panduan-budidaya-sorgum-tanaman-pangan-alternatif-pengganti-gandum?page=all
